Thursday, September 22, 2016

Mencoba waras

01.49 - Saya mulai menulis
Sebenarnya ngantuk tapi tanganku gatal.

Malam ini dingin, dan sepi
Tidak ada hujan, hanya suara serangga dan kokok ayam yang bersahutan
Lalu akhirnya saya putuskan untuk menulis sedikit alih-alih tidur

Tadinya saya ingin bercerita bahwa;
Hari ini saya senang, karena
tidak gagal melawan malas saya untuk pergi kuliah, walaupun telat tapi saya tetap masuk kelas.
Sempat bertemu pacar saya yang sedang sibuk, dan makan mie rebus bareng saat hujan-hujan.
Alif, anaknya penjaga kos, lagi bawel dan akur sama saya, duh, senang denger bawelan anak kecil.
Nemu dan nonton film bagus tentang relationship gitu judulnya The Intervention, seru.
Malamnya, saya dan teman saya Rangga ngopi dikedai kopi fancy baru dan worth it, ditambah dapet foto bagus hasil huntingan malam sok ide kita.

Walaupun saya senang, tentu terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan yang selalu dunia berikan untuk merecoki hari saya yang semestinya senang saja. Yaitu,
Sempet ngecewain pacar saya karena tidak nyamperin ke suatu tempat makan dimana dia dan teman-temannya berada.
Pacar saya juga yang janjinya mau pulang ke kos setiap malamnya, eh, malam ini malah nginep lagi.
Kunci kosan saya hilang.

Itu hanya contoh satu hari, hari ini saja. Saya sering kali mengalami ini sampai-sampai saya takut untuk merasa terlalu senang, atau tertawa terlalu kencang. Saya takut dunia benci melihat saya terlalu bahagia. Atau kini saya yang sudah mulai membenci langit yang tidak membiarkan saya mempunyai satu hari sempurna yang penuh tawa dan senang. Atau kalaupun saya pernah mengalami satu hari yang senang, sungguh, aku harus bersiap bahwa itu artinya, besok aku akan mengalami hari yang buruk. Ya, itu sudah terjadi berulang-ulang kali dan kerap begitu. Mengapa ya? Mengapa harus begitu  kentara? Kadang agak membuat saya sedikit merasa trauma.

Tapi lalu saya berfikir;
Aah, tidak-tidak. Saya salah. Ya, saya yang salah. Saya harus meminta maaf kepada langit dan kepada dunia karena aku yang kerap menghakimi nya. Coba lihat, kurang menghakimi apa saya? Bukankah itu sesuatu yang tidak sopan untuk diucapkan kepada dunia?
Saya lalu sadar,
Saya terlalu banyak menilai. Menilai hal-hal yang saya lalui ini menjadi saya suka atau saya tidak suka. Kalau saya suka, ya saya bilang itu hal yang menyenangkan, kalau saya tidak suka ya, berarti hal itu membuat saya gusar atau sedih.
Aduh, saya merasa malu terhadap diri saya yang mempunyai pikiran seperti ini.
Tidak bisa saya kerap menilai dan memprotes langit terus-menerus, bukan?
Padahal, kalau setiap hasil yang keluar selalu sesuai dengan ekspektasi, sesuai mau, apa itu menjadikan yang paling membahagiakan? Kan tidak juga ya.
Toh, yang tau yang terbaik bagi setiap umatNya kan cuma Tuhan, betul?
Betul tidak betul, mau Tuhan ada atau tidak, mau percaya atau tidak percaya,
memang baiknya adalah bersyukur.
Banyak-banyak bersyukur dan berdoa.
Berdoa kepada siapa?
Ya kepada kepercayaan mu masing-masing saja lah.
Kalau tidak percaya adanya Tuhan?
Ya, paling tidak, berdoa memberikan sugesti yang baik bagi tubuh dan pikiran manusia.
Syukur-syukur dari hari-kehari dapat dilalui.
Masih bisa lagi saya memprotes.
Sekali lagi, saya sampaikan maaf atas asumsi saya tadi yang terlampau buruk untuk dikatakan pada langit dan dunia, padahal saya kan sudah numpang hidup ya.

02.40 - Akhirnya tulisan tentang pikiran aneh tengah malam saya selesai.

Ngomong-ngomong,
Saya senang ada wadah untuk tempat saya menulis. Sesungguhnya, maksud saya membuat wadah ini bukan semata-mata agar dibaca oleh orang lain. Ini hanya saya yang mencoba memahami isi kepala saya sendiri melalui setiap rangkaian kata yang saya pilah-pilah agar mencapai maksudnya. Supaya pikiran saya tidak semakin liar. Tidak mudah, makanya saya masih belajar. Bisa dilihat tulisan saya jelek dan kerap amburadul. Tapi tidak apa-apalah, mumpung tidak di gaji.

02.52 - Baiknya saya pamit.
Besok ada kelas jam 10 pagi. Hmm, datang tidak, ya?
Oh iya, laundryan!

***